Home » Posts filed under Penyembuhan
Cara-cara untuk Memperkuat Jantung
Kalau yang sudah terkena kolesterol gimana ya... masih bisa kah dengan cara ini...?
Jantung merupakan organ tubuh yang harus dijaga agar mampu bekerja secara optimal sehingga mampu menjaga organ-organ lain di tubuh bekerja dengan baik. Ada 10 kebiasaan yang dapat dilakukan untuk memperkuat jantung, yaitu:
1. Berhenti Merokok
Asap rokok dapat meningkatkan kolesterol jahat, menurunkan kolesterol baik dan meningkatkan penggumpalan darah.
2. Olahraga 30 Menit Sebanyak 4 kali Seminggu Aktif berolahraga 2 jam dalam seminggu berisiko 60% lebih rendah dibanding yang tidak aktif.
3. Menurunkan Berat Badan 5-10 Kg Jika memiliki berat badan berlebih, menurunkan 5-10 kg bisa mengurangi risiko kematian akibat serangan jantung.
4. Konsumsi 5 Gelas Air Sehari
Orang yang mengonsumsi air dengan cukup membantu mengurangi risiko serangan jantung fatal sebesar 52 persen. Hal ini karena air membantu mengencerkan darah sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya pembekuan.
5. Mengganti Kopi Dengan Teh
Teh mengandung antioksidan lebih kuat dibanding kopi, yaitu flavanoid yang memberi efek perlindungan
6. Mengkonsumsi Salmon Dan Tuna
Salmon dan tuna mengandung asam lemak omega 3 yang dapat menurunkan risiko serangan jantung lebih dari 30%.
7. Mengkonsumsi Sereal Jagung Saat Sarapan
Sereal ini mengandung konsentrasi folat tertinggi (675 microgram) dibanding sereal lain. Asam folat diketahui bisa mengurangi resiko penyakit kardiovaskular.
8. Menghitung Sampai 10
Menghitung 1 sampai 10 sebelum bereaksi terhadap situasi stress dapat mendinginkan tubuh.
9. Mengkonsumsi Semangka
Semangka mengandung senyawa lycophene 40 persen lebih tinggi dibanding tomat merah mentah. Selain itu kandungan air yang tinggi dari semangka bisa membuatnya lebih mudah terserap tubuh dan mencegah penyakit jantung.
10.Tanyakan Pada Dokter Apakah Perlu Konsumsi Vit.E Atau Aspirin
Studi yang dilakukan oleh peneliti University of Pennsylvania mengungkapkan vit.E dan aspirin dapat mengurangi plak yang menyumbat arteri sebesar 80%.
Sumber: http://id.shvoong.com/
Menguasai Berbagai Bahasa Cegah Pikun
Saya baru bisa, Bahasa Indonesia, Boso Jowo, Basa Sunda, itu pun belum telalu mahir...
Liputan6.com, Toronto: Ada banyak manfaat menguasai berbagai bahasa. Anda dapat menikmati buku, musik, dan film dalam bahasa lain. Bahkan menguasai berbagai bahasa dipercaya dapat mencegah gejala pikun alias Alzheimer*.
Dalam sebuah penelitian terhadap 450 pasien Alzheimer, yang dipimpin oleh Ellen Bialystok, seorang profesor psikologi di York University di Toronto, mereka yang menguasai bahasa lain, sebagian besar hidup mereka mampu mencegah gejala Alzheimer selama empat sampai lima tahun lebih lama daripada orang yang hanya bicara satu bahasa. Meskipun kemampuan berbicara dua bahasa tidak mencegah penyakit "perampok" ingatan itu, hal itu menunda munculnya gejala.
Mengapa? Kuncinya mungkin sesuatu yang disebut cadangan kognitif*. Belajar dan berbicara dua bahasa membutuhkan otak untuk bekerja lebih keras, yang membantu otak tetap lincah. Seperti melakukan teka-teki silang dan belajar keterampilan baru yang dapat membantu otak menciptakan dan memelihara lebih banyak hubungan saraf. Otak dengan lebih cadangan kognitif dan lebih banyak fleksibilitas dan kontrol eksekutif dianggap mampu mengganti hilangnya neuron yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer.
Psikolog Universitas British Columbia, Janet Werker, menguji bayi di Spanyol yang tumbuh dengan mempelajari bahasa Spanyol dan Katalan. Dia menunjukkan bayi itu dengan video wanita berbicara bahasa yang tidak pernah mereka dengar, yakni Inggris dan Prancis. Tetapi dengan tanpa suara. Dengan mengukur 'rentang perhatian, Werker menyimpulkan bahwa bayi bisa membedakan antara bahasa Inggris dan Prancis hanya dengan menonton isyarat wajah. Bisa saja perbedaan bentuk bibir.
Werker mencontohkan, dalam bahasa Inggris "th" membangkitkan bentuk khas bibir dalam dan bentuk gigi. "Apapun isyaratnya, bayi denga satu bahasa tidak bisa membedakan, "kata Werker.
Penelitian lain baru-baru ini didukung hubungan antara bilingualisme dan kontrol eksekutif. Penelitian yang melibatkan bayi yang dijejali dua bahasa sejak lahir, ditemukan bahwa bayi bilingual tidak bingung dengan dua bahasa karena mereka belajar sangat awal untuk mendapat perhatian yang lebih baik, menurut AP.
Studi lain yang melibatkan 230 orang menemukan bahwa manfaat ke memori pada orang tua yang meningkat dengan jumlah bahasa yang mereka bicarakan. Mereka yang berbicara empat atau lebih bahasa, lima kali lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan masalah kognitif dibandingkan yang bilingual. Dan orang-orang yang berbicara tiga bahasa, tiga kali lebih kecil kemungkinan memiliki masalah kognitif daripada orang yang berbicara dua bahasa. Studi ini akan dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Academy of Neurology di Honolulu pada bulan April.
Bagaimana dengan kita yang tidak cukup beruntung untuk belajar dua bahasa pada saat bayi? Para ahli mengatakan ada banyak alasan untuk optimis. Beberapa manfaat kognitif dengan belajar bahasa lain masih berlaku, bahkan ketika bahasa itu dipelajari pada pertengahan hidup. Bahkan jika Anda tidak pernah mencapai kefasihan. Idenya adalah hanya untuk menjaga otak Anda aktif.(HelthLand.Time/MEL)
Dalam sebuah penelitian terhadap 450 pasien Alzheimer, yang dipimpin oleh Ellen Bialystok, seorang profesor psikologi di York University di Toronto, mereka yang menguasai bahasa lain, sebagian besar hidup mereka mampu mencegah gejala Alzheimer selama empat sampai lima tahun lebih lama daripada orang yang hanya bicara satu bahasa. Meskipun kemampuan berbicara dua bahasa tidak mencegah penyakit "perampok" ingatan itu, hal itu menunda munculnya gejala.
Mengapa? Kuncinya mungkin sesuatu yang disebut cadangan kognitif*. Belajar dan berbicara dua bahasa membutuhkan otak untuk bekerja lebih keras, yang membantu otak tetap lincah. Seperti melakukan teka-teki silang dan belajar keterampilan baru yang dapat membantu otak menciptakan dan memelihara lebih banyak hubungan saraf. Otak dengan lebih cadangan kognitif dan lebih banyak fleksibilitas dan kontrol eksekutif dianggap mampu mengganti hilangnya neuron yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer.
Psikolog Universitas British Columbia, Janet Werker, menguji bayi di Spanyol yang tumbuh dengan mempelajari bahasa Spanyol dan Katalan. Dia menunjukkan bayi itu dengan video wanita berbicara bahasa yang tidak pernah mereka dengar, yakni Inggris dan Prancis. Tetapi dengan tanpa suara. Dengan mengukur 'rentang perhatian, Werker menyimpulkan bahwa bayi bisa membedakan antara bahasa Inggris dan Prancis hanya dengan menonton isyarat wajah. Bisa saja perbedaan bentuk bibir.
Werker mencontohkan, dalam bahasa Inggris "th" membangkitkan bentuk khas bibir dalam dan bentuk gigi. "Apapun isyaratnya, bayi denga satu bahasa tidak bisa membedakan, "kata Werker.
Penelitian lain baru-baru ini didukung hubungan antara bilingualisme dan kontrol eksekutif. Penelitian yang melibatkan bayi yang dijejali dua bahasa sejak lahir, ditemukan bahwa bayi bilingual tidak bingung dengan dua bahasa karena mereka belajar sangat awal untuk mendapat perhatian yang lebih baik, menurut AP.
Studi lain yang melibatkan 230 orang menemukan bahwa manfaat ke memori pada orang tua yang meningkat dengan jumlah bahasa yang mereka bicarakan. Mereka yang berbicara empat atau lebih bahasa, lima kali lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan masalah kognitif dibandingkan yang bilingual. Dan orang-orang yang berbicara tiga bahasa, tiga kali lebih kecil kemungkinan memiliki masalah kognitif daripada orang yang berbicara dua bahasa. Studi ini akan dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Academy of Neurology di Honolulu pada bulan April.
Bagaimana dengan kita yang tidak cukup beruntung untuk belajar dua bahasa pada saat bayi? Para ahli mengatakan ada banyak alasan untuk optimis. Beberapa manfaat kognitif dengan belajar bahasa lain masih berlaku, bahkan ketika bahasa itu dipelajari pada pertengahan hidup. Bahkan jika Anda tidak pernah mencapai kefasihan. Idenya adalah hanya untuk menjaga otak Anda aktif.(HelthLand.Time/MEL)
*Kognitif/Kognisi: Kognisi adalah kepercayaan seseorang tentang sesuatu yang didapatkan dari proses berpikir tentang seseorang atau sesuatu.
Proses yang dilakukan adalah memperoleh pengetahuan dan memanipulasi pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, membayangkan dan berbahasa. Kapasitas atau kemampuan kognisi biasa diartikan sebagai kecerdasan atau inteligensi. Bidang ilmu yang mempelajari kognisi beragam, di antaranya adalah psikologi, filsafat, komunikasi, neurosains, serta kecerdasan buatan.
Proses yang dilakukan adalah memperoleh pengetahuan dan memanipulasi pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, membayangkan dan berbahasa. Kapasitas atau kemampuan kognisi biasa diartikan sebagai kecerdasan atau inteligensi. Bidang ilmu yang mempelajari kognisi beragam, di antaranya adalah psikologi, filsafat, komunikasi, neurosains, serta kecerdasan buatan.
*Alzheimer: Alzheimer bukan penyakit menular, melainkan merupakan sejenis sindrom dengan apoptosis sel-sel otak pada saat yang hampir bersamaan,sehingga otak tampak mengerut dan mengecil. Alzheimer juga dikatakan sebagai penyakit yang sinonim dengan orang tua.

Perut Buncit..? Pakai Cara Ini
Anda perut nya buncit..? sama seperti saya.. tapi tidak terlalu buncit juga sih... tapi saya berusaha untuk perut saya tetap kurus, minimal idealis lah, dan saya sekarang akan mengasih tau, bagaimana cara
mengecilkan perut dengan cara sederhana, Check this out..
1. Ambil Sedotan Minuman
2. Potong Sedotan 5CM
3. Ratakan Salah satu ujung Sedotan
4. Tutup Sebagian Dengan Selotip
5. Cara Kerja
Lakukan cara ini 3 Menit setiap hari
sumber : kaskus, google gambar, NTV






